ABSTRAKS
ANALISIS ALOKASI BIAYA BERSAMA DALAM RANGKA PENENTUAN LABA PADA PD. KERUPUK ADI MAKMUR
Kata Kunci: Alokasi Biaya Bersama, Laba.
Biaya bersama adalah biaya yang dikelurkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Bila dalam satu proses produksi dihasilkan lebih dari satu produk maka produk tersebut dinamakan produk bersama. Tujuan penulisan ilmiah ini adalah untuk mengetahui pengalokasian biaya bersama dan untuk penentuan laba pada PD. Kerupuk Adi Makmur.
Dalam penulisan ilmiah ini penulis mencoba untuk mengetahui apakah alokasi biaya bersama dapat digunakan untuk menentukan laba pada PD. Kerupuk Adi Makmur. Setelah dilakukan perhitungan maka penulis menganalisis dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa menghitung alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode nilai jual relatif dapat menentukan laba. Maka PD. Kerupuk Adi Makmur sebaiknya mulai melakukan pengalokasian untuk biaya bersama guna mengetahui penelusuran biaya dengan lebih jelas sehingga dapat menghasilkan laba yang optimal.
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Untuk kemajuan suatu usaha maka perusahaan harus mampu mengelola usahanya. Kesemuanya itu tidak terlepas dari kemampuan suatu perusahaan dalam mengambil keputusan guna kelangsungan usaha itu sendiri dan informasi sangat diperlukan dalam membantu kemajuan perusahaan. Informasi akuntansi baik yang akan datang dan masa lalu akan berguna bagi perusahaan untuk harga jual produk.
Perusahaan dalam meningkatkan kegiatan usahanya perlu melakukan proses produksi yang memanfaatkan satu atau beberapa bahan baku utamanya untuk menghasilkan dua atau lebih jenis produk yang hampir sama tetapi dengan variasi yang berbeda, serta masing-masing produk bersama.
Seperti pada “PD. Kerupuk Adi Makmur” yang memproduksi berbagai macam jenis kerupuk, antara lain kerupuk rambak dan kerupuk gendar dimana dari produk bersama tersebut terdapat biaya bersama. Biaya bersama adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya. Produk yang dihasilkan tersebut berasal dari proses pengolahan bahan baku yang sama sehingga timbul masalah pengalokasian biaya bersama kepada berbagai produk yang dihasilkan.
Biaya bersama dapat dialokasikan kepada tiap-tiap produk bersama dengan menggunakan empat metode yang terdiri dari metode nilai jual relatif, metode kuantitatif, metode biaya perunit rata-rata dan metode rata-rata tertimbang. Dimana yang dibahas dalam pembahasan dalam PI ini adalah metode nilai jual relatif yang banyak digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk bersama. Dasar pikiran metode ini adalah bahwa harga jual suatu produk merupakan perwujudan biaya yang dikeluarkan dalam memperoleh produk tersebut.
Metode nilai jual relatif banyak digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama kepada produk bersama. Tujuan alokasi biaya bersama adalah untuk perhitungan laba, agar dapat diketahui berapa kontribusi masing-masing produk bersama terhadap seluruh laba yang diperoleh perusahaan.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka penulis dalam penulisan ilmiah ini mengambil judul “ ANALISIS ALOKASI BIAYA BERSAMA DALAM RANGKA PENENTUAN LABA PADA PD. KERUPUK ADI MAKMUR.”
I.2 Perumusan Masalah
Dari penjelasan diatas penulis mangambil perumusan masalah: Bagaimana mengalokasikan biaya bersama dan apakah alokasi biaya bersama dapat digunakan untuk menentukan laba pada PD. Kerupuk Adi Makmur.
I.3 Batasan Masalah
Penulis membatasi dengan perhitungan alokasi biaya bersama dengan metode nilai jual relatif yang berkisar pada bulan januari 2010 karena keterbatasan data yang diperoleh beserta perhitungan laba.
I.4 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ilmiah ini adalah: untuk mengetahui pengalokasian biaya bersama dan untuk menentukan laba pada PD. Kerupuk Adi Makmur.
I.5 Metode Penelitian
Adapun metode yang digunakan penulis dalam penulisan penelitian ilmiah ini adalah metode pengumpulan data dengan:
- Observasi Lapangan
Dengan melakukan penelitian dan peninjauan langsung untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan penulisan ilmiah ini.
b. Kepustakaan
Penelitian yang dilakukan dengan membaca berbagai buku yang ada kaitanya dengan pembahasan dalam penulisan ilmiah ini.
I.6 Sistematika Penulisan
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi uraian yang mengambarkan secara umum mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Bab ini berisikan mengenai pengertian biaya bersama, pengertian produk bersama, karakteristik produk bersama, Alokasi biaya bersama dan laporan laba rugi.
BAB III: GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Bab ini menceritakan tentang sejarah perusahaan dan struktur organisasi perusahaan.
BAB IV: PEMBAHASAN
Bab ini berisi data hasil penelitian dalam bentuk pengalokasian biaya bersama mengunakan metode nilai jual relatif dan perhitungan laba rugi pada PD. Kerupuk Adi Makmur.
BAB V: PENUTUP
Bab ini mengemukakan kesimpulan atas pembahasan pokok permasalahan serta saran yang dianggap perlu dan bermanfaat bagi perusahaan.
BAB II
LANDASAN TEORI
II.1 Pengertian Biaya bersama
Biaya bersama dikeluarkan untuk mengolah bahan baku menjadi berbagai macam produk yang dapat berupa produk bersama. Pengertian biaya bersama menurut Mulyadi (1991; 358) dalam bukunya akuntansi biaya, biaya bersama adalah biaya yang dikeluarkan sejak saat mula-mula bahan baku diolah sampai dengan saat berbagai macam produk dapat dipisahkan identitasnya.
Sedangkan menurut Abdul Halim (1998; 125) dalam bukunya dasar-dasar akuntansi biaya 2, biaya bersama adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk menjadi beberapa macam.
Dan menurut Supriyono (1999; 238) dalam bukunya akuntansi biaya , biaya bersama adalah biaya produksi yang terdiri atas biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik yang semuanya tidak dapat diikuti jejaknya pada macam produk tertentu.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan biaya bersama adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengolah bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik yang menghasilkan dua jenis produk atau lebih.
II.2 Pengertian Produk Bersama
Bila dalam satu proses produksi dihasilkan lebih dari satu produk maka produk tersebut dinamakan produk bersama. Pengertian produk bersama menurut Mulyadi (1991; 358) dalam bukunya akuntansi biaya, produk bersama adalah dua produk atau lebih yang diproduksi secara serentak dengan serangkaian proses atau dengan proses gabungan.
Sedangkan menurut Abdul Halim (1988; 126) dalam bukunya dasar-dasar akuntansi biaya 2, produk bersama adalah beberapa produk yang dihasilkan dari suatu rangkaian atau seri proses produksi secara serempak dengan menggunakan bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik yang sama, yang tidak dapat dilacak, dibedakan atau dipisahkan pada setiap produk dan mempunyai nilai jual atau kuantitas produk relatif sama.
Dan menurut Supriyono (1999; 238) dalam bukunya akuntansi biaya, produk bersama adalah beberapa macam produk yang dihasilkan bersama-sama dengan mengunakan satu macam atau beberapa macam bahan baku, tenaga kerja dan fasilitas pabrik yang sama tersebut tidak dapat diikuti jejaknya pada setiap macam produk tertentu.
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan produk bersama adalah dua jenis produk atau lebih yang diproduksi secara bersama-sama dalam satu rangkaian proses produksi dan masing-masing produk mempunyai harga jual yang relatif sama.
II.3 Karakteristik Produk Bersama
Karakteristik produk bersama menurut Abdul Halim (1999;126) dalam bukunya dasar-dasar akuntansi biaya 2 sebagai berikut:
- Produk utama yang dihasilkan oleh produk bersama merupakan tujuan utama pengolahan produk.
- Nilai penjualan adalah relatif lebih besar dan relatif sama diantara produk-produk umum. Dalam proses produk bersama dikenal istilah “titik pisah” yakni saat terpisahnya (split-off) masing-masing jenis produk yang dihasilkan dari bahan baku, tenaga kerja dan overhead yang telah dinikmati produk secara bersama-sama.
- Setelah terpisah (split-off) produk berdiri sendiri-sendiri yang mungkin langsung dijual atau mungkin pula harus diproses lebih lanjut untuk mendapatkan produk yang lebih menguntungkan. Biasanya dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang besar.
- Salah satu produk tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk yang lain.
Untuk memperjelas pengertian tentang produk bersama berikut ini digambarkan secara sederhana aliran biaya/proses produksi dalam produk bersama.
Gambar II.1
Aliran Biaya & Proses Produksi Produk Bersama
SPLIT OFF
Dijual Dijual
Dijual
Sumber: Abdul Halim. Dasar-dasar Akuntansi Biaya. Yogyakarta: BPFE, 1998.
II.4 Alokasi Biaya Bersama
Masalah akuntansi dalam produk bersama adalah alokasi biaya bersama. Alokasi tersebut bertujuan untuk penentuan harga pokok dan penentuan nilai-nilai persediaan. Dengan kata lain tujuan akhir alokasi biaya bersama adalah untuk memberikan informasi kepada manajemen baik untuk kepentingan penyusunan laporan keuangan maupun kepentingan pengambilan keputusan.
Biaya bersama dapat dialokasikan kepada tiap-tiap produk bersama dengan mengunakan salah satu dari empat metode dibawah ini:
1. Metode Nilai Jual Relatif
Menurut metode ini biaya bersama dialokasikan menurut nilai harga jual dari masing-masing atau jenis produk. Dasar pemikiran untuk mengalokasikan atas dasar nilai harga jual ini adalah bahwa ada hubungan langsung yang erat antara harga pokok dengan harga jual dari suatu produk. Harga jual suatu produk akan sangat ditentukan oleh harga pokok untuk memproduksi produk tersebut. Oleh sebab itu biaya bersama sudah selayaknya dialokasikan atas dasar harga jualnya.
Metode ini lebih populer dibandingkan metode yang lain. Menurut metode ini pengalokasian biaya bersama dapat menimbulkan situasi:
- Harga jual sudah diketahui saat split off
Bila harga jual sudah diketahui saat split off maka biaya bersama dialokasikan ke masing-masing jenis produk dengan cara membagi total nilai harga jual setiap produk dengan total nilai jual seluruh produk yang diproduksi yang akan menghasilkan rasio dari masing-masing jenis produk. Rasio ini kemudian dikalikan dengan total biaya bersama.
|
|
|
Total nilai harga jual setiap produk
Alokasi B. Bersama = ____________________________ X Total Biaya
Bersama
Total nilai jual seluruh produk
|
|
- Harga jual tidak diketahui pada saat split off
Harga jual produk bersama pada saat split off sangat mungkin tidak diketahui terutama sekali bila produk tersebut masih memerlukan proses produksi lebih lanjut. Dalam keadaan ini harga jual produk tersebut pada saat menjadi produk selesai (setelah diproses lebih lanjut) tetap harus diketahui.
Harga jual dari produk bersama dalam hal ini disebut harga jual “hipotesis”. Harga jual hipotesis adalah harga jual produk selesai (setelah diproses lebih lanjut) dikurangi biaya yang dikeluarkan untuk proses lebih lanjut produk bersama yang telah terpisah (split off).
Secara grafis persoalan tersebut digambarkan sebagai berikut:
Gambar II.2
Aliran Biaya Proses Lebih Lanjut
Diproses lagi biaya
Diproses Lagi biaya
Harga jual tidak diketahui Harga jual diketahui
(harga jual hipotesis)
Lebih sederhana lagi, sebagai berikut:
(1)
|
|
|
Biaya proses lebih lanjut
|
|
(2)
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Harga jual hipotesis = (2) – (1)
|
|
Sumber: Abdul Halim. Dasar-dasar Akuntansi Biaya. Yogyakarta: BPFE, 1998.
Metode nilai jual relatif ini memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
- Apabila harga jual mencerminkan biaya yang diserap oleh produk utama, metode ini tepat, mudah dan praktis untuk dipakai.
- Metode ini menghasilkan laba kotor setiap macam produk yang besarnya sama.
- Biaya bersama umumnya tidak berhubungan langsung dengan harga jual.
- harga jual sering kali dipengaruhi oleh banyak faktor tidak hanya biaya yang diserap saja, tetapi juga permintaan dan penawaran (keadaan pasar), keputusan pemerintah dan persaingan.
2. Metode Kuantitatif atau Unit Fisik
Menurut metode ini dasar alokasi dari biaya bersama adalah jumlah kuantitas yang diproduksi untuk masing-masing produk. Satuan kuantitas yang dimaksud adalah seperti unit, ton, kilogram, buah, biji, meter dan lain sebagainya.
Dalam metode ini syarat yang harus dipenuhi adalah bahwa satuan unit kuantitas harus sama. Bila satuan kuantitas tidak sama maka akan ditemui kesulitan dalam alokasi yang akan dilakukan.
Perhitungan alokasi biaya bersama dalam metode ini adalah dengan membagi jumlah dari kuantitas masing-masing produk dengan jumlah total dari keseluruhan kuantitas semua produk. Hasilnya dikalikan dengan total biaya bersama akan mendapatkan alokasi biaya bersama dari masing-masing produk.
|
|
|
Total unit tiap produk
Alokasi biaya bersama = ____________________ X Biaya Bersama
Total unit semua produk
|
|
Metode kuantitatif/ Unit Fisik memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Merupakan metode yang paling mudah untuk dipakai mengalokasikan biaya bersama pada setiap produk utama
2. Merupakan metode yang kasar karena tidak memperhitungkan faktor-faktor lainnya misalnya: berat produk, volume/ukuran produk, mudah/sulitnya dioleh, lamanya waktu pengolahan, keahlian tenaga kerja, jumlah bahan yang dikonsumsi.
3. Laba kotor yang dihasilkan oleh setiap macam produk tidak punya hubungan dengan kemampuan setiap macam produk dalam menghasilkan laba.
3. Metode Biaya Per Unit Rata-rata
Metode ini berupaya untuk mendistribusikan total biaya produksi ke berbagai produk atas dasar biaya per unit rata-rata. Angka ini diperoleh dengan membagi total biaya produksi bersama dengan jumlah unit yang diproduksi. Perusahaan yang mengunakan metode ini berpendapat bahwa semua produk yang dikerjakan dengan proses yang sama harus menerima bagian yang sebanding dari total biaya produksi berdasarkan jumlah unit yang diproduksi. Kalau semua unit yang diproduksi diukur dalam satuan unit yang sama dan tidak banyak berbeda, metode ini dapat diterapkan tanpa ragu-ragu. Bila unit yang diproduksi tidak dapat diukur dalam satuan yang sama atau hanya berbeda, metode ini sebaiknya jangan digunakan. Metode ini memiliki sifat-sifat yang sama dengan metode kuantitatif.
|
|
|
Total biaya bersama
Biaya Per Unit = ___________________________
Total jumlah unit yang diproduksi
Alokasi Biaya Bersama = Biaya Per unit x Jumlah unit dari tiap
Produk yang diproduksi untuk tiap
Produk.
|
|
4. Metode Rata-rata Tertimbang
Dalam metode rata-rata tertimbang ini untuk mendapatkan dasar alokasi diperlukan suatu penimbangan atau bobot. Alasan diadakannya suatu penimbang ini adalah karena berbedanya tingkat kesulitan dalam proses produksi, kualitas tenaga kerja yang digunakan atau ukuran dari masing-masing produk dan lain sebagainya. Dengan adanya penimbang diharapkaan alokasi atas biaya bersama dirasakan lebih memadai.
Dasar perhitungan dalam metode ini adalah jumlah kuantitas dari masing-masing produk dikalikan dengan faktor penimbang/bobot dari masing-masing produk yang akan menghasilkan jumlah penimbang rata-rata untuk setiap produk. Jumlah dari hasil perkalian antara kuantitas dengan penimbang dari setiap jenis produk merupakan dasar pembagi (penyebut) alokasi biaya bersama.
|
Jml penimbang rata-rata setiap produk
Alokasi Biaya = _________________________________ X Jml Biaya
Bersama Bersama
Total penimbang rata-rata seluruh produk
|
|
Metode rata-rata tertimbang memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
1. Dapat membebankan biaya bersama dengan relatif adil dan teliti apabila dalam memilih penimbang benar-benar mencerminkan perbandingan biaya yang dinikmati oleh setiap macam produk.
2. Metode ini sulit dipakai karena menentukan faktor penimbang agar teliti dan adil, dimana kemungkinan dipertimbangkan berdasarkan kontribusi berbagai faktor, sulit diperhitungkan.
3. Apabila faktor penimbang sifatnya teliti dan adil dapat mengambarkan kemampuan setiap macam produk dalam menghasilkan laba.
II.5 Laporan Laba Rugi
laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu. Selisih antara pendapatan-pendapatan dan biaya merupakan laba yang diperoleh atau rugi yang diderita oleh perusahaan. Laporan rugi laba yang kadang-kadang disebut laporan penghasilan atau laporan pendapatan dan biaya merupakan laporan yang menunjukkan kemajuan keuangan perusahaan dan juga merupakan tali penghubung dua neraca yang berurutan.
Dari uraian di atas dapat dilihat pentingnya laporan rugi laba yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode. Sebelum sampai pada pembicaraan mengenai susunan laporan rugi laba perlu diketahui terlebih dahulu beberapa istilah yang digunakan dalam laporan ini. Definisi-definisi berikut ini diambil dari statement of financial accounting concepts nomor 6 yang dikeluarkan oleh FASB.
● Pendapatan (Revenue)
adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha atau pelunasan utangnya (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerangan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.
● Biaya (Expense)
adalah aliran keluar atau pemakaian lain aktiva atau timbulnya utang (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau dari pelaksanaan kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama badan usaha.
● Penghasilan (Income)
adalah selisih penghasilan sesudah dikurangi biaya-biaya. Bila pendapatan lebih kecil daripada biaya, selisihnya sering disebut rugi.
● laba (Gain)
adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan ( revenue ) atau investasi oleh pemilik. Contohnya adalah laba yang timbul dari penjualan aktiva tetap.
● Rugi (Loss)
adalah penurunan modal (aktiva bersih) dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari suatu transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya (expense) atau distribusi pada pemilik. Contohnya adalah rugi penjualan surat berharga
● Harga Perolehan (Cost)
adalah jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva. Misalnya pembelian mesin dan pembayaran uang muka sewa(persekot biaya).
II.5.1 Susunan Laporan Laba-Rugi
Dalam prinsip akuntansi Indonesia disebutkan:
- Perhitungan rugi laba perusahaan harus disusun sedemikian rupa agar dapat memberikan gambaran mengenai hasil usaha perusahaan dalam periode tertentu.
- Cara penyajian perhitungan rugi-laba adalah sebagai berikut:
– Harus memuat secara terperinci unsur-unsur pendapatan dan beban.
– Sebaiknya disusun dalam bentuk urutan kebawah.
– Harus dipisahkan antara hasil dari bidang usaha lain serta pos luar biasa.
II.5.2 Bentuk Laporan Rugi laba
Laporan rugi-laba dapat disusun dalam dua bentuk sebagai berikut:
- Multiple Step (Bertahap)
Bentuk multiple step adalah bentuk laporan rugi laba dimana dilakukan beberapa pengelompokan terhadap pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya yang disusun dalam urutan tertentu sehingga bisa dihitung penghasilan-penghasilan sebagai berikut:
– Laba bruto, yaitu hasil penjualan dikurangi harga pokok penjualan
– Penghasilan usaha bersih, yaitu laba bruto dikurangi biaya-biaya usaha.
– Penghasilan bersih sebelum pajak, yaitu penghasilan usaha bersih ditambah dan dikurangi dengan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya diluar usaha.
– Penghasilan bersih sesudah pajak, yaitu penghasilan bersih sebelum pajak dikurangi pajak penghasilan.
– Penghasilan bersih dan elemen-elemen luar biasa, yaitu penghasilan bersih sesudah pajak ditambah atau dikurangi dengan elemen-elemen yang tidak biasa (sesudah diperhitungkan pajak penghasilan untuk pos luar biasa).
- Single Step
Dalam bentuk ini tidak dilakukan pengelompokan pendapatan dan biaya ke dalam kelompok-kelompok usaha dan diluar usaha, tetapi hanya dipisahkan antara:
– Pendapatan-pendapatan dan laba-laba
– Biaya-biaya dan kerugian-kerugian.
Berikut ini diberikan contoh untuk laporan rugi laba bentuk multiple step dan single step.
Format laporan rugi laba, multiple step
PT ABC
Laporan Rugi Laba
Periode yang berakhir tanggal 31 Januari 19…
___________________________________________________________
Hasil penjualan xxx
Penjualan retur xxx
Potongan penjualan xxx
xxx
Hasil penjualan bersih xxx
Harga Pokok penjualan
Persedian barang dagang 1 januari 19… xxx
Pembelian xxx
Ongkos angkut xxx
xxx
Pembelian retur xxx Potongan pembelian xxx
xxx xxx Tersedia untuk dijual xxx Persedian barang dagangan xxx Harga pokok penjualan xxx Laba bruto xxx
Biaya usaha:
Biaya penjualan xxx
Depresiasi xxx
xxx
Biaya administrasi dan umum
Sumbangan xxx
Macam biaya umum xxx
xxx xxx
Laba bersih xxx
Format laporan Rugi Laba, Single step
PT ABC
Laporan Rugi Laba
Periode yang berakhir tanggal 31 Januari 19…
___________________________________________________________
Hasil penjualan bersih xxx
Harga pokok penjualan xxx
Laba kotor penjualan xxx
Biaya pemasaran xxx
Biaya Administrasi dan umum xxx
xxx
Laba bersih xxx
.
BAB III
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
III.1 Sejarah Umum Perusahaan
PD. Kerupuk Adi Makmur adalah perusahaan dagang yang bergerak dibidang pembuatan kerupuk yaitu kerupuk rambak dan kerupuk gendar. PD. Kerupuk Adi Makmur berlokasi di Jl. Peninggaran Timur III No. 28 Rt.011/09 Jakarta Selatan.
PD. Kerupuk Adi Makmur berdiri sejak tahun 1996 yang didirikan oleh bapak Adi selaku pemilik perusahaan juga merangkap sebagai manajer. Usaha bapak Adi berawal dari sulitnya mendapatkan pekerjaan. Pada akhir tahun 1995 bapak Adi memiliki modal yang cukup untuk mendirikan perusahaan dengan keterampilan membut kerupuk. Akhirnya dengan modal tersebut berdirilah PD. Kerupuk Adi Makmur pada tahun 1996. Bapak Adi mempekerjakan 9 orang karyawan untuk membantu mengolah usahanya. Dimana para karyawannya diperoleh dari lingkungan sekitar peninggaran timur III yang terdiri dari karyawan pengolahan bahan baku, pengukusan, pemotongan, penjemuran dan pengorengan , pembungkusan.
Customer PD. Kerupuk Adi Makmur berasal dari lingkungan peninggaran dan kebayoran lama. Makin lama customer PD. Kerupuk Adi Makmur semakin bertambah sampai ke daerah cileduk.
III.2 Struktur Organisasi
Perusahaan dikatakan baik apabila struktur organisasi dalam perusahaan tersebut bagus dan dapat diketahui dengan jelas masing-masing bagian. Untuk lebih jelasnya akan diberikan gambaran struktur organisasi PD. Kerupuk Adi Makmur adalah sebagai berikut:
Gambar III.1
Struktur Organisasi PD. Kerupuk Adi Makmur
Sumber: PD. Kerupuk Adi Makmur, 2010
Tugas dan tanggung jawab adalah sebagai berikur:
1. Pimpinan, selaku pemilik dan pengelola PD. Kerupuk Adi Makmur
a. Memimpin, mengawasi serta mengelola seluruh kegiatan PD. Kerupuk Adi Makmur
b. Mengawasi jalannya produksi
c. Mengatur jalannya produksi dan tata kerja dilingkungan PD. Kerupuk Adi Makmur
2. Bagian produksi, sebagai faktor yang menentukan jalannya produksi perusahaan
terdiri dari:
a. Pengolahan bahan baku
Pada bagian ini bertugas mengolah bahan baku menjadi adonan kerupuk.
b. Pengukusan
Bagian ini bertugas mengukus adonan yang sudah jadi sampai adonan tersebut
matang.
c. Pemotongan
Bagian ini bertugas memotong kerupuk sesuai dengan bentuknya.
d. Penjemuran & Pengorengan
Pada bagian ini bertugas menjemur kerupuk sampai benar-benar kering sehingga
Kerupuk dapat di goreng.
e. Pembungkusan
Pada bagian ini bertugas membungkus kerupuk sehingga kerupuk dapat dijual.
III.3 Proses Produksi
PD. Kerupuk Adi Makmur merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur yang menghasilkan produk kerupuk rambak dan kerupuk gendar. Untuk pemasaran produk yang dihasilkan, para customer langsung mengambil kerupuk ke perusahaan, sehingga PD. Kerupuk Adi Makmur tidak memiliki bagian pemasaran.
Proses produksi kerupuk ini adalah sebagai berikut:
Tahap pertama : Semua bahan baku di campur menjadi satu sehingga menjadi adonan kerupuk. Setelah adonan jadi kemudian dibagi dua untuk kerupuk rambak diberikan tambahan bumbu berupa terasi dan untuk kerupuk gendar diberikan tambahan bumbu berupa bleng. Sehingga rasa dari kerupuk tersebut berbeda.
Tahap kedua : Semua adonan tersebut dikukus sampai matang.
Tahap ketiga : Setelah dikukus didinginkan kemudian baru dipotong sesuai bentuknya untuk kerupuk rampak dipotong panjang sedangkan kerupuk gendar dipotong seperti dadu.
Tahap keempat: Setelah dipotong kemudian kerupuk dijemur sampai benar-benar kering sehingga kerupuk tersebut dapat digoreng.
Tahap kelima : Kerupuk yang sudah digoreng didinginkan setelah dingin baru dibungkus, setelah selesai kerupuk dapat dijual.
BAB IV
PEMBAHASAN
IV.1 Data Biaya Bersama PD. Kerupuk Adi Makmur
Sebelum alokasi biaya produk bersama dilakukan terlebih dahulu harus ditentukan berapa besarnya biaya bersama selama satu periode. Dalam penelitian ini penulis mengunakan data pada bulan januari 2010 dan diketahui bahwa ada 2 macam produk bersama yang akan dibahas yaitu: Kerupuk Rambak dan Kerupuk Gendar.
Adapun elemen biaya bersama terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik yang sama. Secara grafis dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar IV.1
Aliran proses produksi
Kerupuk rambak
( split off )
Kerupuk
Kerupuk gendar
Sumber : PD. Kerupuk Adi Makmur, 2002
● Keterangan
Biaya produk bersama untuk seluruh produk sampai pada titik pemisahan (split off) harus diproses lebih lanjut supaya produk ini bisa menjadi unit yang terpisah dan berdiri sendiri.
IV.1.1 Biaya Bahan Baku
Untuk membuat kerupuk diperlukan bahan baku, dari bahan baku tersebut memerlukan biaya. Biaya tersebut disebut dengan biaya bahan baku. Biaya bahan baku yang diperlukan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar adalah sebagai berikut:
Tabel IV.1 Biaya Bahan Baku ( satu bulan= 22 hari )
|
Keterangan
|
Kuantitas
|
Harga per satuan
(Rp)
|
Jumlah biaya
(Rp)
|
|
A. Bahan Baku Utama
|
|
|
|
|
1. Sagu
|
150 kg
|
2.500
|
*375.000
|
|
2. Terigu
|
75 kg
|
3.000
|
225.000
|
|
Total Bahan Baku Utama
|
|
|
600.000
|
|
B. Bahan baku penolong
|
|
|
|
|
1. Bawang Putih
|
3 kg
|
4.000
|
12.000
|
|
2. Micin
|
1 kg
|
3.000
|
3.000
|
|
3. Garem
|
3 kg
|
5.000
|
15.000
|
|
4. Minyak Goreng
|
40 kg
|
4.000
|
160.000
|
|
Total bahan penolong
|
|
|
190.000
|
|
Total bahan baku utama dan penolong
|
|
|
790.000
|
Sumber: PD. Kerupuk Adi Makmur, januari 2010
Jadi biaya bahan baku selama sebulan = Rp. 790.000,- x 22 hari = Rp.17.380.000,-
● Keterangan
* Jumlah Biaya = Kuantitas x Harga persatuan
Dari table diatas dapat dilihat bahwa kuantitas yang diperlukan untuk sagu sebesar 150 kg dengan harga per satuan sebesar Rp. 2.500,- diperoleh jumlah biaya sebesar Rp. 375.000,- , sehingga biaya bahan baku yang diperlukan perusahaan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar selama bulan januari 2010 sebesar Rp. 17.380.000,-
IV.1.2 Biaya Tenaga Kerja Langsung Per Bulan
Tenaga kerja yang diperlukan untuk membuat kerupuk sampai selesai adalah 9 orang. Berikut ini adalah table biaya tenaga kerja langsung yang dikeluarkan perusahaan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar:
Tabel IV.2 Biaya Tenaga Kerja Langsung
|
Jenis Pekerjaan
|
Jumlah Tenaga Kerja
|
Gaji
Per Orang
(Rp)
|
Jumlah
Biaya per bulan
(Rp)
|
|
Pengolahan Bahan Baku
|
1 Orang
|
200.000
|
*200.000
|
|
Pengukusan
|
2 Orang
|
100.000
|
200.000
|
|
Pemotongan
|
2 Orang
|
125.000
|
250.000
|
|
Penjemuran &
Pengorengan
|
2 Orang
|
125.000
|
250.000
|
|
Pembungkusan
|
2 Orang
|
100.000
|
200.000
|
|
Total BTKL
|
|
|
1.100.000
|
● Keterangan
* Jumlah biaya per bulan = Jumlah tenaga kerja x Gaji per orang
Dari table diatas dapat dilihat bahwa tenaga kerja langsung yang diperlukan perusahaan pada bulan januari 2010 dengan jenis pekerjaan pengolahan bahan baku diperlukan 1 orang pekerja dengan gaji sebesar Rp. 200.000,- sehingga memperoleh total biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp.1.100.000,-
IV.1.3 Biaya Overhead Pabrik
Biaya overhead pabrik yang diperlukan perusahaan pada bulan januari 2010 adalah sebagai berikut:
Biaya Overhead Pabrik
1. Biaya Listrik Rp. 125.000
2. Biaya Bahan Bakar
– Minyak Tanah 1 dirigen = Rp 20.000 x 22 hari Rp. 440.000
3. Biaya Telepon Rp. 50.000
4. Biaya Sewa Rumah Rp. 200.000 Total BOP Rp. 815.000
IV.2 Biaya Bersama Kerupuk Rambak dan Kerupuk Gendar
Biaya bersama terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Biaya bersama yang diperlukan perusahaan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar pada bulan januari 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel IV.3 Biaya Bersama
|
Jenis Biaya
|
Jumlah
(Rp)
|
|
1. Biaya Bahan Baku
|
*17.380.000
|
|
2. Biaya Tenaga Kerja
|
*1.100.000
|
|
3. Biaya Overhead Pabrik
|
*815.000
|
|
Total Biaya
|
19.295.000
|
Sumber: PD. Kerupuk Adi Makmur, januari 2010
● Keterangan
* Biaya bahan baku diperoleh dari total biaya bersama lihat table IV. 1
* Biaya tenaga kerja Langsung diperoleh dari total biaya tenaga kerja langsung
lihat table IV.2
* Biaya overhead pabrik diperoleh dari total biaya overhead pabrik
Dari table diatas dapat dilihat bahwa biaya bersama yang diperlukan perusahaan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar selama bulan januari 2010 dengan biaya bahan baku sebesar Rp. 17.380.000,- sedangkan untuk biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp. 1.100.000,- dan biaya overhead pabrik sebesar Rp. 815.000,-, sehingga diperoleh total biaya sebesar Rp.19.295.000,-
IV.3 Data Penjualan Kerupuk
Berikut ini akan diuraikan daftar penjualan kerupuk rambak dan kerupuk gendar pada bulan januari 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel IV.4 Data Penjualan Kerupuk
|
Jenis Kerupuk
|
Produksi
Per Hari
(Kg)
|
Hari dalam
sebulan
|
Produksi
Per Bulan
(Kg)
|
Harga Jual
Per Kg
(Rp)
|
Jumlah Penjualan Per Bulan
(Rp)
|
|
Kerupuk Rambak
|
50
|
22
|
*1.100
|
10.500
|
*11.550.000
|
|
Kerupuk Gendar
|
40
|
22
|
880
|
9.150
|
8.052.000
|
|
Total
|
|
|
|
|
19.602.000
|
Sumber : PD. Kerupuk Adi Makmur, januari 2010
● Keterangan
* Produksi per bulan = Produksi per hari x hari dalam sebulan
* Jumlah penjualan perbulan = Produksi per bulan x harga jual per kg
Dari table diatas dapat dilihat bahwa penjualan yang dikeluarkan oleh perusahaan pada bulan januari 2010 untuk kerupuk rambak dengan harga jual per kg Rp. 10.500,- menghasilkan produksi sebesar 1.100 kg sehingga didapat jumlah penjualan untuk kerupuk rambak sebesar Rp. 11.550.000,- sedangkan untuk kerupuk gendar dengan harga jual per kg sebesar Rp. 9.150,- menghasilkan produksi sebesar 880 kg sehingga didapat jumlah penjualan untuk kerupuk gendar sebesar Rp. 8.052.000,-
Untuk memperjelas data dalam memudahkan perhitungan alokasi biaya bersama dapat digambarkan secara grafis sebagai berikut:
Gambar IV.2
Aliran biaya proses lebih lanjut
Saat split off
|
|
|
|
|
|
Kerupuk rambak
1.100 kg
Harga jual Rp. 10.500*
+
Biaya Rp.44.000
|
|
|
|
Kerupuk gendar
880 kg
Harga jual Rp. 9.150
+
Biaya Rp. 77.000
|
|
Sumber: Diolah sendiri, januari 2010
● Keterangan
* Harga jual setelah proses lebih lanjut
* Semua produk selesai saat split off harus diproses lebih lanjur supaya dapat
dijual.
Pada gambar diatas dapat dilihat bahwa total biaya bersama yang diperlukan untuk membuat kerupuk rambak dan kerupuk gendar adalah sebesar Rp. 19.295.000,- menghasilkan produk kerupuk rambak sebesar 1.100 kg dengan harga jual per kg Rp. 10.500,- diperlukan biaya tambahan sebesar Rp. 44.000,- sedangkan untuk kerupuk gendar menghasilkan produk sebesar 880 kg dengan harga jual per kg sebesar Rp. 9.150,- diperlukan biaya tambahan sebesar Rp. 77.000,- sehingga produk tersebut dapat berdiri sendiri.
IV.4 Alokasi Biaya Produk Bersama
Dalam mengalokasikan biaya bersama penulis hanya mengunakan metode nilai jual relatif karena metode ini dianggap tepat dan mudah untuk digunakan.
IV.4.1 Metode Nilai Jual Relatif
Menurut metode ini harga jual produk bersama pada saat splitt off sangat mungkin tidak diketahui terutama sekali bila produk tersebut masih memerlukan proses lebih lanjut. Dalam keadaan ini harga jual produk tersebut pada saat memjadi produk selesai (setelah diproses lebih lanjut) tetap harus diketahui. Harga jual dari produk bersama dalam hal ini disebut harga jual “ hipotesis “.
|
|
|
|
Harga jual hipotesis = Total harga jual – biaya produksi setelah dipisahkan
|
|
|
|
|
Total nilai harga jual setiap produk
Alokasi biaya bersama= _____________________________ x Total biaya bersama
Total nilai jual seluruh produk
|
|
Tabel IV.5 Alokasi Biaya Produk Bersama
|
Ma cam
Pro duk
|
Jum lah Pro
duksi
(Kg)
|
Harga jual per Kg
(Rp)
|
Total harga jual
(Rp)
|
Biaya produksi setelah dipisah
(Rp)
|
Harga jual Hipotesis
|
Alokasi Biaya Bersama
(Rp)
|
Harga Pokok Per Kg
(Rp)
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)
|
(6)=(4)-(5)
|
(7)
|
(8)
|
|
Krpk Ram bak
|
1.100
|
10.500
|
a)
11.550.000
|
44.000
|
b)
11.506.000
|
c)
11.396.143,42
|
d)
10.400,13
|
|
Krpk Gen dar
|
880
|
9.150
|
8.052.000
|
77.000
|
7.975.000
|
7.898.856,58
|
9.063,47
|
|
Total
|
|
19.481.000
|
19.295.000
|
|
Sumber: Diolah sendiri,januari 2010
● Keterangan table IV.5
a) Total harga jual = Jumlah produksi (kg) x Harga jual per kg
b) Harga jual Hipotesis = Total harga jual – biaya produksi setelah dipisah
c) Alokasi biaya bersama = Harga jual hipotesis x Total biaya bersama
Total harga jual hipotesis
d) Harga pokok per kg =Alokasi biaya bersama+biaya produksi setelah dipisah
Jumlah produksi (kg)
Dari table diatas diperoleh perhitungan alokasi biaya bersama yang diperlukan perusahaan pada bulan januari 2010 untuk kerupuk rambak menghasilkan produksi sebesar 1.100 kg dengan harga jual per kg sebesar Rp. 10.500,- sehingga diperoleh total harga jual sebesar Rp. 11.550.000,-. Biaya produksi setelah dipisah untuk kerupuk rambak sebesar Rp. 44.000,- memperoleh harga jual hipotesis sebesar Rp. 11.506.000,- dengan alokasi biaya bersama sebesar Rp 11.396.143,42,- diperoleh harga pokok per kg sebesar Rp. 10.400,13,- sedangkan untuk kerupuk gendar menghasilkan produksi sebesar 880 kg dengan harga jual per kg sebesar Rp. 9.150,- diperoleh total harga jual sebesar Rp. 8.052.000,- biaya produksi setelah dipisah untuk kerupuk gendar sebesar Rp. 77.000,- memperoleh harga jual hipotesis sebesar Rp. 7.975.000 dengan alokasi biaya bersama sebesar Rp. 7.898.856,58,- diperoleh harga pokok per kg sebesar Rp. 9.063,47,-
IV.5 Laporan Laba Rugi
Tabel IV.6 Perhitungan Laba Kotor
|
Macam
Produk
|
Kuan titas dijual
(Kg)
|
Harga jual per Kg
(Rp)
|
Harga pokok per kg
(Rp)
|
Jumlah penjualan
(Rp)
|
Jumlah harga pokok
(Rp)
|
Laba kotor
(Rp)
|
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
(5)=(2*3)
|
(6)=(4)-(5)
|
(7)
|
|
Krpk Rambak
|
1.100
|
10.500
|
a)
10.400.13
|
11.550.000
|
b)
11.440.143
|
c)
109.857
|
|
Krpk Gendar
|
880
|
9.150
|
9.063,47
|
8.052.000
|
7.975.853,6
|
76.146,4
|
|
Total
|
|
19.415.996,6
|
186.003,4
|
Sumber: Diolah sendiri,januari 2010
● Keterangan table IV.6
a) Jml penjualan = Kuantitas dijual (kg) x Harga jual per kg
b) Jml harga pokok = Kuantitas dijual (kg) x Harga pokok per kg
c) Laba kotor = Jumlah penjualan – Jumlah harga pokok
Dari table diatas diperoleh perhitungan laba kotor perusahaan pada bulan januari 2010 untuk kerupuk rambak dengan kuantitas dijual sebesar 1.100 kg dengan harga jual per kg sebesar Rp. 10.500,- maka jumlah harga pokok diperoleh sebesar Rp. 11.440.143,- dan laba kotor diperoleh sebesar Rp. 109.857,- sedangkan untuk kerupuk gendar dengan kuantitas dijual sebesar 880 kg dengan harga jual per kg sebesar Rp. 9.150,- maka jumlah harga pokok diperoleh sebesar Rp. 7.975.853.6,- dan laba kotor diperoleh sebesar Rp. 76.146,4,-
Dalam perhitungan laba rugi penulis mengunakan metode dalam bentuk single step karena lebih mudah digunakan dan sesuai dengan perhitungan yang diperoleh pada perhitungan alokasi biaya bersama. Perhitungan laba rugi dalam alokasi biaya bersama berguna untuk mengetahui berapa besar penjualan masing-masing produk bersama terhadap seluruh laba yang diperoleh perusahaan. Dari semua produk yang dihasilkan oleh perusahan telah terjual habis dengan harga masing-masing untuk produk kerupuk rambak Rp. 10.500,- perkg dan kerupuk gendar Rp.9.150,- per kg, maka perhitungan laba rugi dapat dicari sebagai berikut:
PD. Kerupuk Adi Makmur
Laporan Laba Rugi
Bulan Januari 2010
____________________________________________________________________
Keterangan Kerupuk Rambak Kerupuk Gendar Jumlah
Penjualan * Rp. 11.550.000,- Rp. 8.052.000,- Rp.19.602.000,-
Harga pokok
Penjualan * Rp. 11.440.143,- Rp. 7.975.853,6,- Rp.19.415.996,6,-
Laba Kotor Rp. 109.857,- Rp. 76.146,4,- Rp. 186.003,4,-
Biaya pemasaran Rp. 0 Rp 0
Laba Bersih Rp. 186.003,4,-
●Keterangan
* Jml penjualan = kuantitas dijual (kg) x Harga jual per kg
* Jml harga pokok penjualan = Kuantitas dijual (kg) x harga pokok per kg
IV.6 Analisis
Setelah melakukan perhitungan alokasi biaya bersama dengan metode nilai jual relatif maka penulis menganalisis bahwa: Perhitungan alokasi biaya bersama pada PD. Kerupuk Adi Makmur menghasilkan alokasi biaya bersama pada kerupuk rambak sebesar Rp. 11.396.143,42,- sedangkan pada kerupuk gendar sebesar Rp. 7.898.856,58 dengan total alokasi biaya bersama sebesar Rp. 19.295.000,-. Dari perhitungan alokasi biaya bersama diperoleh harga pokok produk per kg untuk kerupuk rambak sebesar Rp. 10.400,13,- dan kerupuk gendar sebesar Rp. 9.063,47,- ternyata harga pokok tersebut terlalu besar sehingga mengakibatkan perolehan laba yang kecil.
Dalam perhitungan laba dengan metode nilai jual relatif menghasilkan jumlah laba sebesar Rp. 186.003,4,- yang terdiri dari: Laba kotor kerupuk rambak sebesar Rp. 109.857,- dan laba kotor kerupuk gendar sebesar Rp.76.146,4,-. Ternyata laba yang diperoleh PD Kerupuk Adi Makmur dalam sebulan masih kecil.
Pada PD. Kerupuk Adi Makmur laba bersih yang dihasilkan ternyata sama dengan laba bruto, hal ini disebabkan karena pada PD. Kerupuk tidak ada biaya pemasaran yang dapat mengurangi laba bruto karena para customer langsung mangambil pesanan kerupuknya ke PD. Kerupuk adi Makmur sehinga PD. Kerupuk Adi Makmur tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pemasaran.
BAB V
PENUTUP
V.1 KESIMPULAN
Perhitungan alokasi biaya bersama untuk kerupuk rambak sebesar Rp. 11.396.143,42,- dan kerupuk gendar sebesar Rp. 7.898,856,58,- diperoleh harga pokok setiap produk untuk kerupuk rambak sebesar Rp.10.400,13,- dan kerupuk gendar sebesar Rp. 9.063,47,-. Berdasarkan perhitungan laba diperoleh laba sebesar Rp.186.003,4,- yang terdiri dari laba kotor untuk kerupuk rambak sebesar Rp.109.857,- dan laba kotor kerupuk gendar sebesar Rp. 76.146,34,-. Ternyata laba bersih yang diperoleh PD. Kerupuk Adi Makmur sama dengan loba kotor, hal ini disebabkan karena pada PD. Kerupuk Adi Makmur tidak ada biaya pemasaran yang dapat mengurangi laba kotor karena para customer langsung mangambil pesanan kerupuknya ke PD. Kerupuk Adi Makmur sehingga PD. Kerupuk Adi Makmur tidak perlu mengeluarkan biaya pemasaran.
V.2 SARAN
Sebaiknya PD. Kerupuk Adi Makmur mulai melakukan pengalokasian untuk biaya bersama guna mengetahui penelusuran biaya dengan lebih jelas sehingga dapat menghasilkan laba yang optimal dengan cara mengurangkan jumlah penjualan dengan jumlah harga pokok penjualan dan hasilnya dikurangi dengan biaya pemasaran.